Selasa, 21 Februari 2012

Menerapkan Disiplin Pada Anak

“Disiplin harus dimulai dari kecil!” Kata-kata itu mungkin sering Anda dengar dalam membesarkan seorang anak. Disipilin sangat penting dalam kehidupan ini, terutama anak-anak, agar mereka tumbuh menjadi orang sukses. Namun para orangtua tidak menyadari cara mereka dalam mendisiplinkan anak-anak ternyata tidak tepat.
      Dalam membuat peraturan seringkali para orangtua menerapkan hukuman yang terlalu keras atau malah ada peraturan yang dibuat dengan tujuan mendisiplinkan namun tidak bersungguh-sungguh dalam pelaksanaannya. Satu hal yang harus Anda ingat, tujuan dari disiplin bukanlah hukuman, tetapi memberikan pelajaran kepada anak untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan dan bagaimana akibat perlakuannya itu terhadap orang lain.
      Anda mungkin pernah membentak atau menaikkan volume suara saat si kecil melanggar peraturan yang dibuat. Sebuah penelitian Sosiolog dari University of New Hampshire, Murray Straus, mengungkapkan bentakan dan ancaman dapat mempengaruhi mental anak hingga memicu tingkah laku agresif pada anak. Tindakan membentak dan mengancam itu akan membawa efek psikologis jangka panjang sang anak, dan biasanya baru terlihat setelah mereka beranjak dewasa.
      Straus menyebutkan anak-anak yang tumbuh dengan didikan pendisiplinan yang penuh dengan bentakan, ancaman dan hukuman yang berat dapat mengakibatkan kurang percaya diri atau menjadi seorang pemberontak. Hal yang ditakutkan lainnya, yaitu sang anak akan melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Dalam menerapkan displin pada si kecil tidak harus diawali dengan kekerasan, bentakan ataupun amarah, dan berikut masukan bagi Anda untuk mendisiplinkan si kecil :
  1. Tulislah peraturan Anda berserta konsekuensinya di atas selembar kertas dan tempelkan di lemari es atau tempat mana pun yang strategis dan memungkin bagi anak Anda melihatnya.
  2. Pastikan bahwa anak Anda mengerti peraturan dan konsekuensi yang Anda buat. Menjelaskan peraturan itu dengan spesifik, misalnya dengan mengucapkan “Pegang tangan mama kalau menyebrang jalan.” Atau “Kalau sudah jam 8 malam tidur ya, nanti kalua tidak tidur, besok bangun kesiangan, loh.”
  3. Ajaklah anak Anda membaca kembali peraturan ketika ia melanggar peraturan yang telah Anda buat. Jangan lupa ingatkan konsekuensi yang ia terima jika melanggar peraturan tersebut.
  4. Tawarkan pilihan-pilihan pada anak Anda, karena bagaimanapun anak Anda membutuhkan kemerdekaan dan tidak menyukai hal-hal yang mengekangnya. Hal ini akan menumbuhkan kekuatan dan kontrol dari sang anak dan menghindari dari seorang anak yang pemberontak.
  5. Jangan sampai anak Anda berpikir ia telah melanggar peraturan dan harus menerima konsekuensinya karena Anda, atau volume suara Anda yang tidak sadar meninggi, ketika melihatnya melanggar peraturan. Buatlah si kecil tersadar ia berhak mendapat konsekuensi karena ia telah melanggar peraturan.
  6. Ingatlah untuk menahan emosi Anda saat sang anak melakukan pelanggaran. Jangan sampai Anda berteriak, menarik, membentak atau mengancam. Anak-anak lebih menerima kepada perintah “kerjakan” atau “lakukan” dibandingkan “Jangan lakukan atau jangan kerjakan”. Lebih baik katakan apa yang seharusnya dilakukan sang anak, seperti “Bicara pelan-pelan,” daripada melarangnya untuk berbicara.
  7. Terakhir, Anda harus benar-benar konsisten terhadap peraturan yang Anda buat. Jika si kecil harus tidur jam 8 malam, maka setiap malamnya ia harus tidur jam 8 malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar